The Green Grunge Gentlemen

The Green Grunge Gentlemen
Foto by; Deddy Dwianto







Nggak banyak dari grup band di negeri ini yang memiliki idealisme kuat dalam bermusik. Seperti halnya grup band asal Bali ini. Mereka mengaku, ada bukan karena dibentuk oleh industri musik, bukan pula produk dari industri musik. Mereka muncul, memang dasarnya sebagai pecinta musik dan tema yang mereka angkat bukan tema yang lagi trend di pasaran. Pengalamannya sebagai pegiat lingkungan, membuat Gede Robi Supriyanto (akrab disapa Robi) mencetuskan ide untuk membuat sebuah band bersama rekannya Dadang.

Tahun 1996, terbentuklah sebuah band bernama Navicula. Sebuah nama yang diambil dari sejenis ganggang emas bersel satu, berbentuk seperti kapal kecil. Dalam bahasa Latin, Navicula berarti kapal kecil. Terdiri dari empat personil: Robi (vokal, gitar), Dankie/Dadang (gitar), Made (bass) dan Gembul (drum).

Mereka sepakat memilih aliran musik rock jadi warna dasar lagu. Nggak seperti kebanyakan band rock, lagu-lagu Navicula nggak banyak bermain di wilayah cinta. Satu-satunya kesan cinta yang begitu kuat di Navicula adalah cinta lingkungan. Khususnya hutan, dan lebih khusus lagi satwa liar. Terutama orang utan.

Navicula sudah menyuarakan isu-isu lingkungan jauh sebelum isu lingkungan itu marak seperti sekarang ini. Band ini juga memadukan warna etnik, folk, psychedelic, punk, alternatif, funk, dan blues, dengan liriknya yang sarat dengan pesan aktivisme, semangat perdamaian, cinta dan kebebasan. Lewat musik, Navicula berharap agar lebih mudah dipahami oleh generasi muda akan isu lingkungan yang mereka bawa. Saking aktifnya Navicula di aktivisme sosial dan lingkungan, band grunge ini dijuluki “The Green Grunge Gentlemen” dengan orang utan sebagai lambangnya.

“Sebenarnya kita bukan tertarik pada orang utan, tapi isu dibalik orang utan,” ungkap Robi saat ditemui Janna. Apa saja isunya? Roby lalu menjelaskan. Deforestasi hutan alias kerusakan Hutan. Terus, hubungannya dengan orang utan? Hutan, sambungnya, merupakan habitat orang utan, harimau dan lain-lainnya. Dampak dari deforestasi hutan itu nggak hanya flora dan fauna yang rusak, tapi juga merambah ke permasalahan pelanggaran hak asasi, sosial, kebijakan lokal, suku-suku adat setempat yang bergantung dari hutan.

Lebih jauh, dia menjelaskan ada tiga jenis kera besar didunia, gorila, simpanse, dan orang utan. Simpanse dan gorila adanya di Afrika, orang utan adanya di Sumatra dan Borneo. Mereka bukan monyet, bukan juga monkey, mereka ape. Ape itu lebih cerdas dari monyet dan DNA nya mendekati manusia. “Jadi, orang utan merupakan icon saja,” tandas Robi.