‘The Cuckoo’s Calling’ Menguak Misteri Pembunuhan

‘The Cuckoo’s Calling’ Menguak Misteri Pembunuhan







Janna berani nebak, kamu yang generasi 90-an pastinya tau banget bagaimana awal kelahiran tokoh ciptaan JK. Rowling, ‘Harry Potter’. Kepopuleran Harry sebagai sosok penyihir cilik yang tumbuh dewasa bersama kamu pun membuat JK. Rowling lekat dengan citra pencipta tokoh fantasi anak-anak. Setelah usai masa Harry Potter, Rowling menjajal genre politik dengan menulis novel dewasa berjudul ‘The Casual Vacancy’. Belakangan, namanya kembali jadi sensasi dunia kesusastraan lewat sosok pseudonym, Robert Galbraith, sebagai penulis ‘The Cuckoo’s Calling’ atau dalam Bahasa Indonesia, ‘Dekut Burung Kukuk’.

Membaca judulnya, kamu mungkin nggak bisa menebak kalau novel ini berlatarkan kisah pembunuhan. Adalah Cormoran Strike, seorang detektif swasta yang karirnya hampir tamat akibat terhimpit hutang tiba-tiba saja ditemukan oleh John Bristow. Rupanya, Bristow merupakan kakak dari sahabat lama Strike dan menginginkan Ia mengusut kasus pembunuhan adiknya yang lain, Lula Landry. Lula Landry si supermodel cantik, saat itu sedang heboh diberitakan bunuh diri melompat dari balkon apartemen tempat Ia tinggal. Namun, karena merasa tidak ada yang janggal, awalnya Strike menolak tawaran itu. Di sisi lain, Bristow terus memaksa sampai akhirnya Strike tak berdaya menolak bayaran yang bisa membersihkan semua hutang-hutangnya.

Strike juga bertemu dengan Robin, sekretaris sementara yang ditunjuk untuk membantu Strike, meskipun ia tidak menginginkannya. Meski kasus ini lalu memberinya kelonggaran dalam hal keuangan, di sisi lain juga menuntut imbalan pribadi yang mahal. Semakin jauh dia terbenam dalam kasus ini, semakin kelam kenyataan yang ditemuinya, dan semakin besar bahaya yang mengancam nyawanya.

Novel detektif pertama Rowling ini mengikuti pola yang biasa kita jumpai di banyak novel-novel detektif lainnya yang dibuka dengan misteri. Selanjutnya, kita akan langsung diperkenalkan pada tokoh-tokoh penyelidik dan para tersangka. Kemudian, buku ini ditutup dengan jawaban apakah Lula Landry benar dibunuh atau bunuh diri. Alurnya juga dibuat menegangkan khas novel detektif.

Mirip seperti saat membaca ‘Harry Potter’ atau sedikit lebih memikat dari ‘The Casual Vacancy’, seperti itulah rasanya saat membalik-balik tiap halaman ‘The Cuckoo’s Calling’. Buku setebal 520 halaman dalam versi Bahasa Indonesia itu seakan memaku kita terus mengikuti jejak Cormoran Strike si karakter utama di novel tersebut. Robert Galbraith memang terlihat lihai bercerita dan jago membuat tokoh jadi hidup. Ia juga sukses menggunakan kalimat-kalimat yang panjang dan beranak. Deskripsi suasana, lokasi, dan tempat akan kamu rasakan begitu real. Membaca buku ini seakan mengantarkan kamu menyusuri London, jalanan Mayfair yang mewah dan sunyi, ke bar-bar suram di East End, hingga ke keriuhan Soho.

Makanya, nggak heran New York Times sempat memuji ‘The Cuckoo’s Calling’ kendati saat itu belum terungkap siapa Galbraith yang sesungguhnya. So, overall this book is recommended to read, Jannaration!