Solmisasi

Solmisasi

Menurut Jean Benjamin de La Borde. Seorang ilmuwan dan komponis Perancis, dalam bukunya Essai sur la Musique Ancienne et Moderne (1780 M). Tangga nada dalam musik, (solmisasi), sudah ada sejak abad ke-9. Notasi itu, terdiri dari silabels dalam abjad Arab, yaitu Mi Fa Shad La Sin Dal Ra. Senada juga, dipaparkan oleh komposer Eropa lain, Guillaume-André Villoteau (1759-1839 M). Menurutnya, solmisasi adalah hasil daya cipta ilmuan muslim.

Bagi La Borde, temuan notasi abjad Arab tersebut, ditranslit oleh ilmuwan Eropa ke bahasa Latin, menjadi Ut, Re, Mi, Fa, Sol, La, Si. Urutan itu, diambil dari himne Ut Queant laxis. Sebuah himne yang ditujukan untuk St. Jhon the Baptist. Yang biasa dikenal dengan himne St. Jhon.  Dengan urutannya: Ut queant laxis - Resonare fibris - Mira gestorum - Famuli tuoru - Solve polluti - Labii reatum - Sancte Iohannes. Artinya: So that your servants may, with loosened voices, resound the wonders of your deeds, clean the guilt from our stained lips, O Saint John. Adalah pemusik Italia Guido Arezzo (991-1033 M) dengan teori Guido’s handnya, yang pertama kali mengemukakan teori tersebut.

Kemudian La Borde membuat monograf yang menampilkan perbandingan kritis antara model solmisasi temuan ilmuwan muslim dan solmisasi yang dipakai Guido Arezzo dengan teori Guido’s Handnya. Yang kemudian diakui sebagai notasi musik hingga kini. Hasilnya, teori Guido’s Hand merupakan adobsi dari sistem notasi yang ditemukan oleh ilmuan muslim

Buku_AlFarobiSalah satu buku yang membahas tentang nada tangga solmisasi Arab, adalah buku Al-Mausiqul Kabir karangan Ibn Al-Farabi/ Alpharabius (870-950 M). Nama-nama musikus muslim seperti, Yunus Alkatib (765 M), Al-Khalil (791 M), Al-Ma’mun (833 M) dan Ishaq Al-Mausili (850 M), juga memperkenalkan sistem notasi dalam bermusik di bukunya yang terkenal di Barat dengan judul Book of Notes and Rhythms dan Great Book of Songs.

Karya Al Ma’mun dan Ishaq Al Mawsili itu, diteliti dan dikembangkan lagi oleh ilmuan muslim lainnya. Seperti Abu Yusuf bin Ishaq Al Kindi (874 M), Yahya Ibn Ali ibn Yahya (1048 M), Ahmad ibn Muhammad As Sarakhsi (1286 M), dan Thabit ibn Qurra (1288 M). Sebelum meninggal, dua musisi Barat Dominucus Gundissalinus (1151 m) dan The Count Souabe Hermanus Reiuchenau meneliti kembali temuan Al Kindi.

Sebelum teori Guido’s Hand muncul, teori musik sudah berkembang pesat di Spanyol melalui seorang pemusik, penyair, composer yang juga ahli astronomi, geografi dan botani. Bernama Abu l-Hasan ‘Ali Ibn Nafi‘ atau yang biasa dipanggil dengan gelar Ziryab. (789-857 M). Ziryab juga sebagai pendiri musik tradisi Andalusia Afrika Utara. (the Andalusian music traditions of North Africa).