Real Hipster, are You?

Real Hipster, are You?







Sering lihat orang berpenampilan nyentrik dan terkesan ‘aneh’, karena beda dari umumnya? Misalnya, kalau bepergian jauh atau dekat, lebih suka naik sepeda fixie. Padahal jalan kaki kan bisa kalau dekat. Selera musiknya, bukan musik populer. Lebih suka aliran musik indie yang nama band dan jenis musiknya rada nggak familiar ditelinga. Kalau bicara, agak berfilsafat ria. Hobinya foto ala instagram dengan smartphone terbarunya.

Dari segi fashion, untuk yang cewek, kemana saja perginya, selalu pakai tight. Kacamata lensa besar menghiasi wajah. Yang cowok, rambutnya nggak boleh klimis, alias nggak disisir. Celananya berbahan khaki alias chino, yang digulung di bagian bawahnya. Kalau pakai kaca mata, sukanya model Buddy Holly, gitu. Nah, tipikal seperti itu di era sekarang di sebut dengan Hipster. Eit, tapi, bukan hipster model celana loh, ya. Tapi hipster, sebagai gaya hidup yang bertolak belakang dengan segala sesuatu yang sedang populer saat ini. Istilah lainnya anti-mainstream.

Menurut Sosiolog Universitas Nasional, Nia Elvina, hipster muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap modernisme, yang memunculkan industri kapitalisme. Jadi, manusia dipaksa untuk memiliki produk yang sama. Kaum hipster ini biasanya anak-anak muda kelas menengah atas, yang selalu ingin tampil beda dari mainstream yang ada. Kata Hipster sendiri diambil dari Hipsteria. Yang artinya menolak budaya populer.

Bersamaan dengan munculnya pemikiran posmodernisme itulah, hipster lahir. Sebagai bentuk counter attact atas budaya masa populer. Yang menyeragamkan semua gaya, hiburan dan lain-lain. Sehingga terjadi kebosanan dengan budaya yang monoton. Sesuatu budaya yang ngetren, termasuk dari kategori selera rendah. Padahal, manusia punya keunikan dan keistimewaan sendiri. Selama mempunyai kritik budaya, mampu memilah antara budaya global dan lokal. Indonesia akan menjadi hipster bagi budaya global.

Sebab, Hipster di Indonesia dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas, masih mengadobsi penampilan dari budaya luar. Sejatinya, real Hipster itu sebagai budaya tandingan. Hipster harus punya acuan dan perbuatan sesuai dengan nilai yang dianut. Nggak hanya ikutan arus globalisasi, tapi juga lokalisasi. Pakai baju batik, misalnya. Selama punya kesadaran akan nilai yang dianut, itulah real hipster. Bangga menjadi bangsa Indonesia, yang nggak bisa di Amerikanisasi, Eropanisasi, atau Arabinasisai.

Dari sudut pandang Psikologi, seperti yang dipaparkan oleh Radhiya Bustan, Psikolog dari Universitas Al Azhar Indonesia. Kaum hipster yang mayoritas muncul diberbagai kota-kota besar ini, cenderung ingin dipandang orang lain karena perbedaannya. Tapi itu bukan termasuk dari gangguan kepribadian perhatian (Histrionik). Selama nggak memenuhi minimal tiga klasifikasi dari kategori abnormal. Nah, menurutnya hipster hanya menyandang satu kreteria saja. Yaitu aneh atau nggak sama dengan kebanyakan orang. Nah, kamu gimana?