Pepeng ‘NAIF’ dan Sosok Vigilante dari Jalanan

Pepeng ‘NAIF’ dan Sosok Vigilante dari Jalanan
Setan Jalanan. Franki Indrasmoro a.k.a Pepeng 'NAIF' menunjukkan preview komik terbarunya yang terinspirasi dari karakter jagoan bermotor. (Foto: Deddy Dwianto)

Dunia komik Indonesia sekarang kehadiran satu karakter jagoan baru. Namanya Kelana. Dia, seperti layaknya jagoan di komik-komik lain, pada awalnya nggak punya keahlian bela diri khusus. Dia cuma anak muda biasa. Kelana menjadi mahir bela diri seiring perjalanannya membasmi kejahatan di balik identitasnya sebagai Setan Jalanan.

Tapi, kata kreator yang melahirkannya, Kelana dibekali satu kelebihan. Dia handal mengendarai sepeda motor dengan berbagai trik freestyle. Dengan bekal itulah sosoknya sebagai Setan Jalanan sanggup menghabisi banyak musuh. Dari situ, dia mulai beraksi di jalanan-jalanan ibukota sebagai vigilante penegak keadilan. Sosoknya muncul di antara gelap dan terang.

Pada akhir Januari lalu, preview komik Setan Jalanan sudah diperkenalkan di Food Garden, Kemang, Jakarta Selatan. Komik yang diterbitkan oleh Cendana Art Media ini merupakan ciptaan Franki Indrasmoro a.k.a Pepeng. Kita mengenalnya juga sebagai penggebuk drum di band pop-jenaka jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Naif.

“Pada dasarnya gue adalah pembaca komik. Dan gue memang sejak kecil pengen banget bikin komik sendiri,” ujar Pepeng, yang sebelum ini pernah menerbitkan komik Bonbinben (2008) dan seri KomikNAIF (2010-2013).

Dikeluarkan dalam format 24 halaman, komik edisi perkenalan ini dicetak terbatas dalam paket ekslusif yang dikemas di sebuah kotak pizza. Selain komik, paket tersebut juga berisi t-shirt, stiker, dan CD soundtrack Setan Jalanan yang lagunya diisi oleh side-band Pepeng, Raksasa. Paket terbatas ini cuma bisa dibeli secara online lewat www.cendanabooks.com dan www.store.frankiindrasmoro.com.

Kok nggak langsung terbit edisi penuh aja?
Gue mau kisah Setan Jalanan tersosialisasi secara merata dulu. Edisi preview ini gue anggap seperti trailer dalam sebuah film. Biar orang-orang mengerti dulu kisah Setan Jalanan tentang apa dan bagaimana rupanya. Begitu sudah dikenal, nanti akan terseleksi sendiri siapa yang menjadi pembacanya dan siapa yang menjadi penikmat sesaat saja. Apapun yang dipilih, itu nggak mempengaruhi gue. Asal semua orang tahu, itu sudah cukup.

Oke. Jadi, gimana awalnya bisa terpikir bikin komik Setan Jalanan?
Setan Jalanan awalnya cuma sketsa anak-anak. Waktu itu usia gue sekitar 10 tahun. Suatu hari, karena terpengaruh oleh film seri televisi yang berjudul Street Hawk, gue menggambar seorang pemotor dengan motor sport dan suit yang keren. Sketsa itu gue warnai lalu gue kasih teks “Setan Jalanan” di atasnya. Lama kelamaan nama itu seperti menghantui gue sampai dewasa. Hingga akhirnya sekitar 2003, gue putuskan untuk membuat sebuah cerita bagi ‘Sang Setan’.

Tentang apa ceritanya?
Jadi, Setan Jalanan bercerita tentang sebuah perjalanan hidup. Hidup seorang remaja biasa di ibukota yang terjebak di situasi di mana dia harus terlibat dalam pertarungan hidup dan mati. Ada bahagia, persahabatan, cinta dan dendam. Semuanya mewarnai perjalanan si tokoh yang bernama Kelana ini.

Apa dia adalah sosok superhero?
Bukan, Kelana bukan manusia super. Ia cuma lelaki biasa yang butuh pengakuan di komunitasnya. Butuh uang untuk hidup dan butuh kasih sayang orangtua. Ya, seperti kita semua. Kalau pada akhirnya Kelana yang juga Setan Jalanan ini masuk ke dalam jajaran komik superhero, mungkin karena sepak terjangnya sebagai vigilante. Membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan.

Selain Kelana, apa ada tokoh lain yang mendukung? Seperti apa karakter mereka?
Tentu ada. Salah satunya Josephine Adhibrata. Panggilannya Jo. Ia adalah rekan sekaligus mentor, bos dan teknisi Kelana. Ayahnya adalah pengusaha spare part motor terkenal yang meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang misterius. Ada juga Jarot Maruli. Sahabat kecil Kelana yang akhirnya jadi musuh besarnya. Kemudian ada Nadya Marzuki, gadis yang Kelana sukai. Dan seperti kisah kepahlawanan seorang vigilante pada umumnya, gue hadirkan juga sosok polisi bernama Surya. Ia bertugas mencari tahu siapa sebenarnya sosok misterius di balik topeng dan motor super ini.

Apa ada inspirasi dari karakter komik lain dalam penciptaan karakter-karakter tersebut?
Pasti! Dan banyak. Semua komik superhero yang gue baca sejak kecil tentunya sangat menginspirasi cerita Setan Jalanan. Latar belakang dendam sangat kental di kisah Setan Jalanan. Seperti halnya kisah vigilante lain. Nggak usah disebutkan satu persatu, Anda bisa memperkirakannya sendiri kok.

Ada riset khusus dalam menggarapnya?
Gue meriset banyak hal tentang motor dan komunitasnya. Bagaimana mereka bisa menjaga persahabatan. Itu sangat menginspirasi. Gue juga riset dunia kepolisian di Indonesia. Bagaimana mereka menangani setiap bentuk kejahatan. Lalu gue riset juga seperti apa kelakuan anak muda masa kini.

Wah, dalam juga, ya.
Ya, gue ingin pembaca merasakan betul apa yang dialami tokoh-tokoh (dalam Setan Jalanan) ini dalam kisah mereka. Karena semuanya saling berhubungan.

Oya, mengapa dinamai Setan Jalanan? Apa imejnya nggak berkesan jelek?
Memang, nama Setan Jalanan cukup banyak dipertanyakan. Tapi gue udah jatuh cinta sama nama ini sejak kecil. Dan gue bertekad akan membawa nama ini sebagai nama jagoan kita. Kalau ada kesan negatif, mari kita ubah jadi positif. Ya, kita lihat dari sisi lainnya. Pasti bisa.

Siapa yang menggambar komik ini?
Namanya Haryadhi. Dia menerbitkan komik (digital) judulnya KOSTUM (Komik Strip Untuk Umum). Gaya gambarnya keren banget. Gue udah kenal dia sejak lama, dari 2008. Waktu itu, Haryadhi adalah pemenang lomba desain sampul album kompilasi kampanye sosial yang gue produseri bersama LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Nama proyeknya Science in Music: Album Kompilasi Siaga Bencana.

Bagaimana proses visualisasinya Anda percayakan pada Haryadhi?
Ketika gue melihat bagaimana dia menggambar Setan Jalanan, gue langsung jatuh cinta. Dia sangat kreatif, profesional dan mahir sekali menggambar komik. Namanya di dunia komik juga nggak perlu diragukan lagi. Gue udah yakin di tangan Haryadhi, Setan Jalanan bakal oke banget.

Mengapa nggak menggambar sendiri?
Ha-ha-ha.. Memang, dalam setiap proyek buku gue, baik itu komik atau bukan, gue nggak pernah menggambar sendiri. Semua bentuk illustrasi dikerjakan secara tim. Sumbangsih visual gue biasanya cuma di awal aja, pada saat mendesain karakter. Waktu gue terbatas banget. Memang sih gue bisa menggambar. Banyak yang bilang gambar gue juga nggak jelek. Tapi, gue merasa gambar gue juga nggak bagus. Ha-ha-ha.

Anda puas dengan hasilnya?
Gue puas sekali! Semua berhasil tervisualkan secara tepat dan sesuai porsinya.

Oya, ceritakan seperti apa proses kreatifnya?
Semua tahapan prosesnya ada di conversation timeline di inbox email gue. Ha-ha-ha. Ya, seperti pada umumnya para profesional bekerja di masa kini, gue, Haryadhi dan Beng Rahadian (editor) lebih banyak melakukan aktivitas lewat email. Progres cerita, gambar, semua ada di situ. Biasanya kami baru akan meeting offline kalo memang diperlukan sekali.

Ada kesulitan?
Biasanya kesulitan awal adalah ketika menterjemahkan dari bahasa teks naskah ke storyboard. Setelah itu, semuanya berjalan mengikuti alur saja. Dari naskah, ke storyboard, lalu ke skets dan berakhir di finishing. Setiap langkah ini selalu diikuti oleh berbagai masukan dan kritik dari editor.

Dibandingkan dengan karya Anda sebelumnya, apa yang menarik dari Setan Jalanan?
Yang pasti, Setan Jalanan adalah karya yang murni gue ciptakan pertama kali sebelum Bonbinben dan KomikNAIF. Gue mengerjakan ini dengan hati dan hati-hati. Tapi bukan berarti di Bonbinben dan KomikNAIF gue nggak pakai hati. Kedua proyek gue sebelum Setan Jalanan ini adalah proyek yang penuh pembelajaran. Nah, pembelajaran itu gue terapkan di Setan Jalanan.

Tentang dunia komik sendiri, sejauh mana sih kecintaan Anda sama bidang ini?
Sejak kecil gue sudah hobi membaca komik. Tintin, Asterix, komik-komik pahlawan super Amerika, dan beberapa komik karya anak Indonesia. Gue juga mengoleksi beberapa di antaranya. Selain itu, gue juga suka menulis dan menggambar. Jadi ya semua itu menjadi satu. Sesimpel itu sih.

Inget nggak komik pertama yang Anda baca?
Komik yang pertama gue baca adalah buku kumpulan komik strip Peanuts karya Charles M Schulz. Itu sebelum gue TK. He-he-he.

Kalo komik yang paling berkesan dan ngasih influence besar?
Gue penggemar berat Batman. Tapi sejujurnya Setan Jalanan minim sekali terpengaruh oleh Batman. Gue suka berbagai genre komik. Bahkan, referensi gue dalam menulis Setan Jalanan justru bukan dari komik. Gue banyak terpengaruh dari novel-novel yang gue baca, seperti Sherlock Holmes, dan beberapa karya Paulo Coelho.

Untuk komik lokal sendiri, seperti apa Anda melihat perkembangannya?
Komik Indonesia itu pergerakannya luar biasa. Sejak 2006, gue mengenal banyak teman dari komunitas komik lokal. Sejak itu, gue mengerti bahwa arus bawah sangat deras. Hanya saja masih belum mencapai ke arus atas. Karena pada dasarnya masyarakat Indonesia bukan tipe pembaca buku. Masih banyak yang menganggap komik hanya bacaan anak-anak.

Apa komik lokal favorit Anda?
Gue suka sekali dengan konsep Benny & Mice, juga dengan Mat Jagung karya Diyan Bijac. Dan tentunya Sawung Kampret karya Dwi Koen.

Punya komikus idola yang berpengaruh besar?
Maaf, sepertinya nggak sebesar itu pengaruhnya. Gue banyak terpengaruh oleh kisah-kisah perjalanan gue sendiri bersama teman-teman gue.

Harapan Anda terhadap dunia komik Indonesia?
Harapan gue nggak muluk kok. Cukuplah orang Indonesia mau membiasakan diri membaca buku, mengubah mindset bahwa komik bukan hanya konsumsi anak-anak, dan tentunya mau menjadikan komik Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Which is, itu adalah harapan semua komikus Indonesia. Gue yakin itu.

Untuk Setan Jalanan sendiri?
Sejujurnya gue tidak memiliki ekspektasi yang besar-besar amat tentang Setan Jalanan. Gue hanya ingin karya ini dikenal banyak orang. Itu saja. Apabila mereka semua ternyata suka dan mengikuti ceritanya, ya alhamdulillah.

Kira-kira akan dikembangkan seberapa jauh kisah Setan Jalanan ini? Kabarnya tertarik difilmkan?
Film? Belum kok. Gue belum berpikir untuk membuat film Setan Jalanan. Gue mau fokus dulu di kisah komiknya. Gue sudah mempersiapkan kisah panjang tentang petualangan Kelana, setelah tiga buku yang akan terbit ini. Tapi itu masih berupa tabungan hari depan. Masih konsep. Kalau ada yang mau buatkan filmnya, ya gue senang sekali. Mari sini ngobrol sambil minum kopi. Ha-ha-ha.

Jadi, kapan nih versi penuh Setan Jalanan mulai bisa dinikmati?
Insya Allah seri pertamanya akan terbit pada bulan Maret 2014. Seri berikutnya tiap tiga bulan, sampai buku terakhirnya, buku ketiga.

Paket edisi perkenalan komik Setan Jalanan. (Dok. Cendana Art Media)

Paket edisi perkenalan komik Setan Jalanan. (Dok. Cendana Art Media)