Mughal E-Azam, Performa Modern Lakon Klasik

Mughal E-Azam, Performa Modern Lakon Klasik
Pementasan Teater UI bertajuk Mughal E-Azam di Gedung Kesenian Jakarta, 3-4 Oktober 2013

Raut terkejut disambung gelak tawa sering kali menghiasi pertunjukkan yang digelar Teater UI 3-4 Oktober lalu. Produksi ke-21 Teater UI itu berjudul Mughal E Azam, sama seperti judul film India yang pernah tayang pada 1960. Pasalnya, meski dengan setting dan properti sederhana, para penampil dengan luwes memainkan lakon abad 15 itu dengan gaya modern ala-ala pertunjukan Masquerade.

Misalnya, mereka cukup memakai gerobak sederhana sebagai pengganti tandu kerajaan. Ketika karakter sang raja harus menyampaikan mandat kerjaan, gerobak tadi pun berubah jadi podium. Banyak juga aksi panggung nggak terduga yang bikin penonton tercengang, misalnya seperti saat Pangeran Salim berperang. Alih-alih melawan sepasukan prajurit, yang menjadi musuhnya justru ialah robot megatron raksasa.

Pementasan Teater UI bertajuk Mughal E-Azam di Gedung Kesenian Jakarta, 3-4 Oktober 2013

Pementasan Teater UI bertajuk Mughal E-Azam di Gedung Kesenian Jakarta, 3-4 Oktober 2013

Komedi, pastinya jadi bumbu utama yang digunakan agar pertunjukan makin segar dan terkesan masa kini, seperti yang diungkapkan Mersiliya Sauliyusta, Project Officer Mughal E Azam. “Ceritanya nggak ada yang kita modifikasi dari cerita aslinya, tapi yang kita pakai komedi-komedi jaman sekarang buat memodifikasinya”. Sedangkan, tarian dan nyanyian yang kental mewarnai budaya India juga ditampilkan di beberapa adegan, terutama adegan romantis yang sayangnya tidak terlalu banyak.

Mughal E Azam berlatar belakang kerajaan Mughal sebagai kerajaan Islam di India yang sangat berpengaruh pada pertengahan abad 15. Pangeran Salim sang anak dari Raja Akbar jatuh cinta pada penari kerajaan bernama Anarkali yang sangat cantik. Mengetahui hal itu Raja Akbar tidak terima putranya jatuh cinta dengan seorang penari kerajaan, sehingga Ia menyusun rencana jahat memisahkan Pangeran Salim dari Anarkali.

Sukses dibawakan ala anak muda banget, namun penghayatan cinta antara Pangeran Salim dan Anarkali masih tetap menyentuh dan mengharukan. Teater yang disutradarai Pradana Setya Kusuma ini, tentunya juga menyampaikan banyak pesan moral, diantaranya tentang bagaimana hubungan ayah dan anak yang kerap bertentangan. Hal ini diperkuat dengan lagu Perfect milik Simple Plan yang dinyanyikan salah satu narator pada bagian penutup pertunjukan.