Mobile Store ala Musick Bus

Mobile Store ala Musick Bus
Musick Bus and the Boss. Rilo menunjukkan caravan pemberian sang kakak yang kini sudah disulap jadi toko musik berjalan miliknya.







Nyali anak sekolah ini rupanya cukup besar. Namanya Rilo Mappanagaja. Umurnya baru genap 17 tahun. Dia masih duduk di kelas XII (kelas 3 SMA). Di tengah ‘lesunya’ bisnis toko musik di Indonesia, bahkan dunia, dia berani banget buka toko musik di kota tempat tinggalnya, Makassar. Padahal, bisnis ini banyak yang menilai udah nggak menjanjikan. Banyak yang mundur.

Sebagai contoh, salah satu toko musik legendaris di Indonesia yang jadi salah satu inspirasi Rilo, Aquarius Mahakam (di Jakarta Selatan), baru aja angkat tangan dan resmi tutup malam tahun baru 2014 kemarin. FYI! Toko ini tutup setelah 18 tahun beroperasi.

Rilo pun prihatin. “Jujur gue sempat sedih,” katanya waktu curhat sama Janna lewat email pekan lalu (30/12). Kesedihan Rilo bukan tanpa alasan. Waktu tahun lalu dia main ke Jakarta, dia sempat mampir ke toko musik ini. Saat itu, sebuah toko musik yang sedang dirintisnya di Makassar sudah jalan satu bulan.

Tapi, Aquarius Mahakam yang jadi inspirasi Rilo itu sudah kadung ‘menyerah’ menghadapi pasar rilisan fisik album musik yang terus merosot beberapa tahun terakhir. Dia juga sempat takut tokonya yang baru seumur jagung ngalamin nasib yang sama.

Tapi, kondisi itu nggak bikin Rilo nyerah begitu aja. Dia tetap yakin bisnis ini masih ada harapan. Kata dia, asal ada inovasi, konsisten dan strategi yang diterapkan bagus, toko musik akan tetap bisa hidup dan rekaman fisik album musik terus dicari.

Akhirnya, Rilo benar-benar memikirkan konsep dan strategi toko musik seperti apa yang dia ingin jalankan. Rilo justru nggak ngikutin konsep konvensional toko musik yang selama ini ada, yang berdiri di atas bangunan tetap di satu tempat. Dan hasilnya keren.

Dirintis pada 23 Desember 2012, Rilo menyulap mini-bus Isuzu Elf miliknya menjadi toko musik berkonsep mobile-store dengan nama Musick Bus. Dia mendesain ulang dan merubah badan mobil itu jadi mirip seperti toko. Bagian dalamnya dibongkar dan interiornya diganti untuk rak CD, vinyl (piringan hitam) dan tempat merchandise. Jadilah dia punya toko musik berjalan.

Tapi, mobil ini cuma jalan tujuh bulan. Bukan karena sepi dikunjungi, justru sebaliknya, banyak calon customer yang antri. Soalnya Musick Bus ini cuma muat dimasuki tiga orang. Rilo pun berpikir bagaimana caranya supaya lebih banyak customer bisa masuk ke dalam Musick Bus. Mau nggak mau, Musick Bus harus lebih besar.

Gimana lo menyiasatinya?
Kebetulan kakak punya mobil caravan yang nggak terpakai. Gue langsung berinisiatif untuk jadikan itu new Musick Bus. Mobil caravan ini juga dibongkar isi dalamnya dan diganti lagi interior untuk rak CD, DVD, vinyl dan gantungan untuk kaos band. Alhasil, mobil ini bisa dimasuki lebih dari sepuluh orang. Lumayan customer nggak antri lagi.

Ceritain deh kayak apa bentuk dan suasana dalam Musick Bus?
Desainnya sih simpel aja. Tapi kadang body Musick Bus dijadikan foto booth sama customer. Yang menariknya sih Musick Bus jadi tempat tongkrongan musik juga. Customer bisa sharing musik yang dia suka ke kita. Terus mereka juga bisa nonton DVD live konser band bule atau lokal yang kami putar.

Kapan sih pertama kali tepatnya Musick Bus keliling?
Acara pertama yang Musick Bus datengin itu pensinya SMA Negeri 1 Makassar. Kalau nggak salah artisnya Trio Lestari dan Netral. Setelah itu berlanjut ke pensi-pensi lain di Makassar.

Abis itu ke mana aja?
Untuk sementara ini kami keliling di sekitar Makassar. Di tongkrongan-tongkrongan anak muda. Ya, sambil bisnis sambil nongkrong juga. Hehe. Tapi yang pasti sih kalau di event musik kami pasti hadir. Selain men-support sambil jualan juga. Tapi kita sekarang lagi punya tempat yang bisa dibilang rejekinya bagus di Jalan Nusantara, Makassar (depan money changer Haji La Tunrung).

Bagaimana respon orang-orang waktu itu?
Cukup bagus responnya. Rata-rata sih kaget, “Ini mobil jual roti atau es krim?” Hahaha. Tapi pas mereka masuk ke dalam mobil, eh ternyata toko musik. Lagian cukup unik juga sih, pertama kali soalnya di Makassar.

Oya, apa aja item yang lo jual? Semuanya baru?
Ada CD, DVD, t-shirt band, vinyl (piringan hitam), boxset, flag poster, book dll, dengan harga kisaran 80 ribu sampai 3 juta untuk import. Kalau lokal 20 ribu sampai 70 ribu. Pokoknya berbau musik, kecuali alat musik. Alhamdullilah sampai sekarang gue jual yang baru dan original.

Isi Musick Bus. Semuanya original, lho.

Isi Musick Bus. Semuanya original, lho.

Apa sih menariknya menjalankan mobile store ini ketimbang toko biasa?
Kalau toko biasa kan jarang masuk di event-event. Tapi kalau mobile asik banget. Kalau ada orang mendadak ajak kita ke tempat yang ramai, kita pasti datangi dan buka di situ. Contohnya kemarin ada event clothing festival di Makassar. Lokasinya indoor.  Semua yang jualan di sana pakai booth. Nah, kami masuk ke sana dengan mobil Musick Bus ini. Cuma kita satu-satunya yang jualan pakai mobil. Hehehe.

Lo nyetir sendiri atau ada rekan kerja yang bantu?
Setiap Musick Bus keliling, kadang gue nyetir sendiri. Tapi, semenjak ada yang mau membantu, sekarang gue punya crew. Jadi, kadang dia yang nyetir plus jadi pegawai di Musick Bus.

Apa yang bikin lo bangga jalanin Musick Bus?
Gue sekarang nggak terlalu nyusahin orangtua lagi. Karena semenjak usaha ini, buku sekolah, baju sekolah sampai uang sekolah gue bayar sendiri. Ditambah lagi menyenangkan hati para penikmat musik di Makassar. Semenjak toko-toko musik di sini banyak yang tutup, orang-orang pada susah dapetin rilisan fisik original. Berkat Musick Bus, mereka bisa kembali menikmati karya fisik album band-band bule dan lokal di sini.

Seserius apa lo menjalankan bisnis ini ke depan?
Awalnya sih ini hanya hobi. Tapi hobi ini menguntungkan bagi gue. Dan ke depannya memang direncanakan mau dijadikan usaha untuk masa depan. Cita-cita gue, selain jadi jurnalis musik, memang begini, pengen punya record store (toko musik).

Ganggu sekolah nggak?
Sangat tidak mengganggu. Usaha ini kan dijalankan sepulang dari sekolah. Orangtua gue juga support. Mereka bangga sama gue semenjak gue jalanin kegiatan yang asik ini.

Terus gimana kalo nanti lo kuliah? Apa ini tetap jalan?
Gue sangat berharap ini terus menerus dan semakin besar. Mimpi gue seperti toko-toko musik di dunia kayak HMV, Rough Trade, Virgin Record, Musik Plus dll. Kemarin sih sempat  bingung mau kuliah di luar Makassar. Tapi gue pikir Musick Bus mau di kemanakan? Jadinya gue ambil keputusan  kuliah di sini sambil urus usaha juga.

Ada rencana keliling ke kota-kota lain di Indonesia?
Iya ada. Rencana gue di tahun 2014 ini mau tur Indonesia dan masuk di event clothing seperti Jakcloth. Atau seenggaknya keliling ke ‘sarang’ penikmat musik di nusantara. Dan target pertama itu pulau Jawa, baru setelah itu ke pulau lainnya. Kalau Tuhan mengizinkan, gue juga punya mimpi tur dunia dengan mobile music store ini. Amin.

Sekarang daya beli orang kan minim banget sama album musik. Lo optimis?
Itu tantangan berat pastinya buat kita. Palingan ya atur strategi marketing, promosi di social media. Kalau strategi lo bagus dan lo konsisten, kemungkinan besar bisa sukses.

Apa harapan lo ke depan terhadap bisnis toko musik?
Harapan gue harusnya pemerintah blokir situ-situs free download itu. Karena sangat merusak karya orang. Toko yang jual rekaman fisik original juga jadinya (kena imbasnya) nggak dihargai. Kalau kita suka sama karya satu band, harusnya beli album mereka atau merchandise-nya di toko-toko rekaman musik.


Nama: Rilo Mappanagaja
Tempat, tanggal lahir: Makassar, 9 November 1996
Sekolah: SMA Negeri 2 Makassar
Hobi: Putar vinyl, dengar musik dan koleksi action figure
Cita-cita: Punya toko yang tetap dan mobile dan jadi jurnalis musik