Mewarnai Negeri Bersama Gerakan UI Mengajar

Mewarnai Negeri Bersama Gerakan UI Mengajar
Agen Perubahan Pendidikan. Salah seorang mahasiswi Gerakan UI Mengajar angkatan 3 sedang berbagi ilmu kepada siswa-siswi Sekolah Dasar dalam sebuah kelas yang berdinding bilik bambu. (Dok. GUIM)

Kalo ngomongin persoalan pendidikan di negara kita tercinta Indonesia, mungkin belum akan ada ujungnya ya, Jannaration. Meski telah lewat satu dekade pasca-milenium, masalah pendidikan kita dari ujung Sumatera sampai pinggiran Papua masih berkutat di situ-situ aja. Persoalan pemerataan jadi momok yang nggak kunjung terselesaikan. Kekurangan guru salah satunya.

Meski begitu, dalam beberapa tahun terakhir telah banyak cara yang diupayakan oleh berbagai pihak untuk membuat pemerataan ini bisa terwujud di berbagai tempat. Udah nggak bisa lagi kalo cuma bergantung pada aksi pemerintah yang geraknya dinilai serba terbatas. Hal ini telah dilakukan oleh mereka yang terpanggil dan merasa peduli terhadap masa depan bangsa ini.

Aksi teman-teman kita dari Universitas Indonesia untuk membantu persoalan ini adalah salah satu yang perlu dikasih apresiasi. Mereka telah melakukan aksi nyata dengan turun langsung sebagai agen perubahan di wilayah pelosok sejak 2011. Mereka mengagas sebuah gerakan bernama Gerakan UI Mengajar (GUIM). Gerakan ini mereka percaya bisa menghasilkan anak didik yang berkualitas dan berkarakter.

Tahun 2014 ini, GUIM sudah berhasil dijalani oleh para pengajar angkatan 3. Sebanyak 36 mahasiswa UI terpilih dari angkatan ini baru saja kembali ke Jakarta setelah mengabdi selama 26 hari (9 Januari – 3 Februari 2014) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Di sana, mereka menyebar secara merata di enam titik: Dusun Ciselang, Dusun Sukatani, Desa Cangkring (Kecamatan Cantigi), Desa Cemara Bong, Desa Cemara Kulon dan Desa Kertasari (Kecamatan Losarang).

Yang menarik, GUIM selalu mengusung tema yang berbeda tiap tahunnya. Tahun ini, mereka mengangkat tema “Mewarnai Negeri, Menginspirasi Bangsa.” Kata ‘mewarnai’ dan ‘menginspirasi’ mereka garis-bawahi. Kata ‘mewarnai’, menurut mereka, untuk memberikan warna bagi Indonesia dengan melakukan kegiatan yang tidak selalu digagas oleh mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia.

Sedangkan kata ‘menginspirasi’ merujuk pada harapan untuk bangsa Indonesia, baik mahasiswa maupun masyarakat umum, agar terinspirasi dari setiap hal yang telah mereka lakukan, baik yang bernilai kecil dan terlebih yang sudah berpengaruh besar. “Masyarakat dapat memajukan bangsa dimulai dari hal-hal kecil,” kata mereka, seperti yang tertulis di situs UImengajar.com.

Nggak cuma memberikan pelajaran sesuai kurikulum yang berlaku di sekolah, para pengajar GUIM 3 juga memberikan beragam materi yang bisa meningkatkan kemampuan softskill siswa. Dalam keterangan pers yang Janna terima tadi pagi dari Kepala Kantor Komunikasi UI Farida Haryoko, kegiatan-kegiatan seru seperti melukis pakaian, teambuilding, teamwork, serta dongeng antikorupsi telah diberikan oleh tim pengajar GUIM 3 kepada 500 siswa Sekolah Dasar (SD).

Selain itu, aksi sosial yang bertujuan untuk membangun desa juga berjalan lancar. Bersama warga desa, mereka bergotong-royong membangun MCK, memasang penerangan jalan dan mengecat balai desa. Apalagi, empat dari enam desa tempat mereka mengabdi tak luput dari terjangan banjir nasional tahun ini.

Menghadapi kondisi tersebut, mereka ikut turun tangan membangun posko dan mendistribusikan logistik kepada korban banjir. Aksi ini dilakukan bahu membahu bersama tim gabungan BEM UI, Mapala UI, Gerakan UI Peduli dan juga Brimob. Tentu, hal ini mendapat respon positif dari seluruh warga desa.

Dalam kesempatan itu, para pengajar GUIM 3 juga tak lupa mendistribusikan bantuan buku dan seragam sekolah hasil penggalangan Gerakan #1000buku #1000seragam yang telah mereka lakukan sebelumnya di kampus UI, Depok.

Lewat gerakan ini, mereka berharap masyarakat bisa terinspirasi untuk turun bersama membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik, khususnya di wilayah pelosok. Sebab, kata mereka, sinergitas semua elemen masyarakat akan sangat berarti dalam membantu menyelesaikan permasalahan dunia pendidikan di tanah air kita. Yap, setuju banget! ;)