Merubah Paradigma

Merubah Paradigma







Jakarta sudah habis. Musim kemarau api. Musim penghujan banjir. Jakarta tidak bersahabat. Api dan airnya bencana. Entah karena kebodohan kecerobohan. Atau keserakahan. Diatasnya berdiri bangunan bangunan industriDisekitar bangunan bangunan ituBangunin bangunin memproduksi belatung. Jakarta sudah habis.

Penggalan lirik Iwan Fals di Album Hijaunya (1992) masih relevan untuk kondisi Jakarta sekarang. Hmm, lagi-lagi tiap datang musim hujan selalu banjir. Dari masa kompeni sampai era Jokowi, genangan air nggak mau surut dari ibu kota Indonesia. Melalui akun media sosial Rabu (15/1), Janna bertanya ke beberapa teman-teman kita. Berikut komentar mereka. Simak yuuk Jannaration…

 

Harus Ada Social Punishment
Nur Asiyah, Universitas Al Azhar Indonesia

Nur Asiyah (23). Mahasiswi Universitas Al Azhar Indonesia

Nur Asiyah (23). Mahasiswi Universitas Al Azhar Indonesia

“Banjir di jakarta membuat kondisi nggak nyaman. Akses jalanan terhambat karena ada genangan menjadikan tambah macet dan membuat cuaca lembab dan rentan terjangkit penyakit 3. Banjir di jakarta sangat menggangu dan seperti belenggu bagi masyarakat. Jika masing-masing pribadi memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungannya. kebiasaan warga yang tinggal di bantaran kali akan membuang sampahnya ke kali. Saya yakin Jakarta mampu bebas banjir.

Selain itu, pemerintah juga perlu menyediakan lebih banyak tempat sampah di beberapa tempat public yang memfasilitasi warga untuk membuang sampah pada tempatnya. Saluran sanitasi diperbaiki, pengerukan di semua kali di jakarta baik yang kecil maupun yang besar dan diberikan sangsi untuk yang membuang sampah sembarangan.

Nggak hanya berupa denda materi atau kurungan penjara tapi bisa melalui hukuman batin atau social punishment.  Dengan cara menyudutkan, melalui tatapan atau teguran langsung dari warga yang berada di sekitar kejadian saat ada seseorang yang membuang sampah sembarangan.”

 

Jangan Salahin Bogor
Surawan Adi Putera, Guru Swasta

Surawan Adi Putera (26). Guru swasta

Surawan Adi Putera (26). Guru swasta

“Agak aneh kalau setiap jakarta banjir yang disalahkan Bogor. Itu paradigma yang harus dirubah. Memang sudah siklus alam. Bogor berada di dataran tinggi dan Jakarta berada di dataran rendah. Otomatis air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
Yang harus dirubah itu ya, pola tingkah laku masyarakat Jakarta dalam memperlakukan lingkungan sekitarnya. Jangan buang sampah sembarangan apalagi ke sungai. Saya sering banget melihat orang dengan entengnya membuang sampah. Baik di tempat umum sekalipun. Saat banjir tiba, barulah cari sela untuk menyalahkan sana sini.

Dan yang jadi pemimpin ya memang selayaknya untuk bertanggung jawab juga. Jangan hanya ketika kampanye saja obral janji, eh pas jadi pemimpin nggak mau bertanggung jawab.”

 

Harus Ada Kesadaran Kolektif
Ali Topan, Karyawan Swasta

Ali Topan (26). Karyawan swasta di Jakarta

Ali Topan (26). Karyawan swasta di Jakarta

“Kalau Jakarta sedang hujan, tentu banyak yang merasa diuntungkan. Seperti penjual jas hujan, ojek payung dll. Demikian juga banyak yang merasa khawatir karena bahaya banjir. Terkait genangan air, tentu akan banyak menyusahkan banyak orang. Apalagi kalau di genangan air yang di jalan raya, pasti akan membahayakan pengguna jalan.

Terkait banjir ini, masalah bersama yang harus kita atasi. Bukan tugas pemprov atau pusat saja, tapi juga warga. Harus ada kesadaran kolektif untuk senantiasa menjaga kebersihan, terutama sungai dan beberapa situ. Jakarta pasti mampu lepas dari banjir, hanya untuk waktu dekat jakarta masih akan dihantui banjir. Karena tata kota jauh dari ideal. Oleh sebab itu, semua lapisan masyarakat Jakarta harus sadar untuk setidaknya mengurangi potensi banjir dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Agar terhindar dari banjir. Harus ada perbaikan sanitasi, revitalisasi sungai dan situ. Perbaikan jalan yang dilakukan oleh pemerintah harus dibarengi perbaikan saluran air di pinggir jalan. Agar air dapat mengalir melalui lubang yang ada di bawah trotoar. Sehingga genangan air di jalan dapat dihindari. Dan yang pasti, kesadaran kolektif lapisan masyarakat di jakarta akan pentingnya kebersihan.”