Lomografi, Siap Repot tapi Fun!

Lomografi, Siap Repot tapi Fun!







Booming kamera digital membuat peminat kamera analog makin berkurang. Ketidakpraktisan jadi alasan utamanya. Hasil jepretan kamera digital bisa dilihat langsung. Sedangkan kamera analog mesti lewat proses cuci cetak dulu. Katanya sih hal ini yang bikin agak repot.

Lantas, apakah kamera analog ditinggalin gitu aja? Rupanya nggak juga. Meski gadget fotografi terus berkembang, kamera ini rupanya masih punya peminat. Salah satunya adalah jenis kamera lomografi atau kamera lomo. Adalah komunitas Lomonesia (Lomographic Society Indonesia) yang masih setia dengan produk fotografi masa lampau ini. Mereka mengembalikan romantisme fotografi jauh sebelum era digitalisasi kamera seperti sekarang.

Komunitas Lomonesia ini telah berdiri sejak 5 Agustus 2004. Awalnya cuma berangkat dari obrolan di mailing list, di mana para pencetusnya: Tommy Haryanto, Gloria Martie, Grace Lingga, dan Amanda Syarfuan—punya ide yang sama terhadap dunia lomografi dan segala sesuatu yang berkaitan di dalamnya.

Kalo kita cari tahu, Lomografi sendiri sebetulnya adalah merk dagang produk-produk fotografi di Austria. Namanya Lomographische AG. Pada 1991, bos perusahaan itu membuat kamera lomo seri LC-A. Lantaran hasil jepretannya yang terlihat aneh, bahkan kabur, kamera tersebut dianggap sebagai produk gagal. Bahkan produksinya nyaris distop lantaran kurang diminati.

Tapi, setelah sempat digelar beberapa kali pameran, karya fotografi dari kamera lomo LC-A mendadak disukai. Hasilnya yang khas dengan warna-warni nggak lazim dan nyaris kabur tadi justru dinilai sebagai keunggulan kamera ini. Dari situ, berbagai model kamera lomo pun mulai diproduksi dan diperjualbelikan. Ada Colorsplash, Actionsampler, Holga Frogeye, Oktomat, dan Fisheye.

Menurut Satria Ramadhan, Project Manager Lomonesia, peminat lomografi di Indonesia seiring waktu terus meningkat. “Komunitas ini sudah tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Semarang, Surabaya, Bali, Pontianak, Makassar, Lampung, Malang, hingga Medan,” bebernya. “Tiap kota rata-rata pesertanya antara 10 sampai 50 orang. Yang bergabung di milis sekitar 1000-an lebih.”

Saking mudahnya pengoperasian kamera lomo, siapa aja bisa jadi lomografer (sebutan untuk pengguna kamera lomo) tanpa harus pusing mikirin skill. It’s all skill-less! Soalnya kamera lomo dirancang ‘friendly-use’supaya bisa dipakai semua kalangan. “Ini gambaran dari betapa simpelnya lomografi. Mau motret, ya nggak usah banyak mikir teknis ini itu, tinggal jepret aja,” kata dia.

Satria juga bilang, setiap lomografer di Lomonesia selalu mengedepankan unsur ‘fun’ dalam memotret. Pokoknya, ‘don’t think, just shoot’. Nggak perlu terpaku pada aturan-aturan baku fotografi. Siapa aja bebas berekspresi dan menciptakan hasil jepretan yang nggak terduga. “Ini yang menjadi daya tarik lomografi dari fotografi lainnya,” kata Satria.

Bagi laki-laki yang telah menggeluti lomografi sejak 2005 ini, lomografi merupakan alternatif di tengah kebosanannya dalam memaksimalkan fotografi digital. “Fotografi digital terlalu effortless. Lo jepret, nggak suka, terus delete. Tapi dengan lomografi yang full analog, kita seakan diajak kembali ke era-era sebelum digital,” tuturnya.

Demi menjaga keaktifan komunitasnya, Lomonesia selalu ngadain acara rutin. Kegiatan berburu foto (hunting) jadi agenda wajib yang nggak boleh dilewatkan. Selain untuk menjaga komunikasi dan menambah teman, lewat acara rutin ini, setiap anggota dapat menggali tips ‘n trick memotret dari teman-teman lomografer yang lain.

Saat ini, Lomonesia adalah perwakilan resmi komunitas lomografi di Indonesia. Mereka telah diakui secara internasional oleh lomografi pusat yang berbasis di Winna, Austria.

Terus, apa modal utama buat mereka yang tertarik menggeluti dunia lomografi? Satria ngasih bocoran, “Siap-siap aja buat repot dan bersenang-senang. Karena di sinilah petualangan fotografi akan dimulai.”