Indonesia Negeri Saba (3)

Indonesia Negeri Saba (3)
KH Fahmi Basya (tengah berjas putih) bersama peserta JNS angkatan ke-33 di tempat sujud menghadap matahari di Istana Ratu Boko. Yogyakarta







Di kesempatan kegiatan Jelajah Negeri Saba angkatan ke-33 di Yogyakarta, Sabtu-Ahad (24-25/1). Janna diperlihatkan banyak bukti oleh K.H Fahmi Basya dan tim Generasi Ahad Foundation, bahwa Indonesia adalah Negeri Saba dan Borobudur yang lokasinya di lembah semut (wadin namlu) adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Menurutnya, bagian Arupadhatu di atas Borobudur itulah yang berpindah dari Istana Ratu Boko yang berjarak 36 km dari Borobudur. Suatu jarak yang sangat ideal untuk penerbangan burung hud-hud.

Berikut data dari KH Fahmi Basya yang menunjukan bukti tersebut. Cekidot:

1.    Saba bukan nama suatu negeri.

Selama ini, kata Saba diartikan sebagai nama sebuah negeri. Jika seseorang terbang di atas suatu negeri, apakah ia tahu nama negeri itu? Apa sebenarnya yang tergambar pada “otak burung” itu, sehingga mengatakan Saba? Itulah alasan mengapa di dalam Al Quran perlu diutus burung yang mengatakannya, agar pembaca mengerti makna yang tersimpan di dalam kata Saba.

So, burung Hud-Hud melihat orang ramai sedang berkumpul, melaksanakan upacara bersujud kepada matahari. Dan mereka dikuasai oleh seorang perempuan yang mempunyai Arsy yang Azhim. “Maka ia berhenti tidak jauh. Burung hud-hud berkata Aku meliput apa yang belum kamu liput dia, dan aku datangkan padamu dari Saba kabar yang pasti. Sesungguhnya aku menjumpai seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai Arsy yang Azhim,” [QS. An Naml (27) 22-23)

Arti Saba yang berarti 'pertemuan' di Kamus Jawa Kawi Indonesia

Arti Saba yang berarti ‘pertemuan’ di Kamus Jawa Kawi Indonesia

2.    Hutan Saba

“Sesungguhnya adalah untuk Saba ada ayat (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua hutan di sebelah kanan dan kiri. Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” [QS. Saba (34):15]

Hutan Saba dalam surat tersebut dikatakan sebagai ayat. Jika dikatakan sebagai ayat, maka ia masih ada di bumi. Contohnya kapal nabi Nuh di katakan sebagai ayat, ternyata masih ada di bumi. QS. Al Qamar (54):15, dan mayat Firaun juga menggunakan kata ayat di QS. Yunus (10):92 juga masih ada.

Dalam kamus Jawa Kawi karya Dr. Maharsi M.Hum Saba berarti pertemuan dan Wana adalah hutan. So, hutan Saba sebutannya itu Wana Saba atau Wonosobo. And, kalau sempat berkunjung ke Wonosobo, akan didapati wilayah sekitar kota di Jawa Tengah itu, masih subur dan banyak hutan yang membentang sepanjang selatan pulau Jawa.

3.    Negeri yang baik

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan sebagian dari bumi seperti mereka.” [QS. At Tholaq (65): 12].  Sebagian dari bumi seperti mereka itu adalah Negeri Saba. Karena negeri Saba, satu-satunya negeri yang dikatakan dalam Al Quran sebagai baldatun toyyibatun Wa robbun ghofur. Istilah Jawanya, gemah ripah loh jinawi.

Syarat Negeri yang baik itu airnya berlimpah, oksigennya nggak terbatas. Alamnya senantiasa diremajakan oleh proses-proses organis. Sebagaimana firman Allah SWT “Dan negeri yang baik, keluar tumbuh-tumbuhannya dengan subur atas izin Allah, dan yang tidak baik, tidak keluar melainkan dengan susah,” [QS. Al A’raf (7): 58].

Terpeliharanya hutan sepanjang zaman karena ekosistem yang stabil dan berlanjut merupakan penjagaan dari Tuhan yang Maha Pemelihara. Dan ciri-ciri negara tersebut hanya ada di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan Yaman, di sana nggak ada tempat yang bernama Saba. Yang ada hanya peninggalan prasasti bertuliskan Sabum. Di Yaman nggak ada tempat bersujud menghadap matahari, nggak ada tempat pertemuan dan nggak ada hutan Saba.

Loh, bukankah jejak Saba itu sudah hilang karena banjir Arim? Kenapa masih ada nama saba?. Dosen matematika Islam di UIN Syarif Hidayatullah itu menjelaskan, bahwa nama Saba dijadikan sebagai ‘buah mulut’ atau ‘buah bibir’ yang biasa disebut dengan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun yang diistilahkan dengan ‘Ahaadiitsa’. “… Maka kami jadikan mereka buah mulut..” QS. Saba (34): 19.