Indonesia Negeri Saba (1)

Indonesia Negeri Saba (1)
Borobudur dari bukit Sutumbu. Di wilayah kompleks Borobudur bagian utara, terdapat semut yang bersarang di hampir semua pohon.







Hingga sekarang, belum ada data tertulis yang menjelaskan siapa dan untuk apa Borobudur di bangun. Tapi, bagi Drs. R. Soekmono, Arkeolog Indonesia yang ikut serta memimpin proyek pemugaran candi Borobudur tahun 1971-1983. Adalah Filolog asal Belanda, J.G. de Casparis dalam disertasinya (1950). Yang berpendapat bahwa, Borobudur adalah tempat pemujaan. Hal ini didasari oleh prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan. Dugaan Casparis, Borobudur didirikan sekitar tahun 824 M oleh raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra.

Adapun nama Borobudur, pertama kali ditemukan dalam buku History of Java (Sejarah pulau Jawa) oleh penguasa Hindia Belanda (Indonesia sekarang) waktu itu, Sir Thomas Raffles (1817). Sedangkan menurut J. L. Moens (1951), Satu-satunya naskah Jawa kuno yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama karya Mpu Prapanca.

Bagi K.H Fahmi Basya, siapa yang membangun dan apa fungsi keberadaan Borobudur dapat dilihat dari Al Quran. Karena sesuai Firman Allah SWT “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sebagai bukti untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri,” [QS. An Nahl (16): 89]

Apalagi sebelum keluar Tafsir Al Furqon, tafsir Al Quran pertama berbahasa Indonesia tahun 1928 oleh A. Hasan. Sangat jarang sekali, bahkan belum ada orang yang mendalami dunia kepurbakalaan di Indonesia yang menggunakan Al Quran sebagai bahan rujukan. Lulusan jurusan matematika Universitas Indonesia ini, juga menjelaskan bahwa, selain sebagai wahyu dari Allah SWT. Dengan menjadikan Al Quran sebagai rujukan, semua perkara yang ada sebelumnya dapat dikoreksi kembali. Sebagaimana Firman-Nya

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan penjelasan tiap sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman,” [QS. Yusuf (12): 111).

Seperti halnya Leonardo Da Vinci, yang meninggalkan kode untuk membuka suatu sejarah masa lalu. Begitu pula dengan Al Quran, untuk membuka rahasianya dibutuhkan suatu kode atau ragam ilmu untuk mengetahuinya. Salah satunya ilmu matematika.

Sebab, bukan tanpa alasan Allah SWT menurunkan Al Quran dengan jumlah 114 surat, 6348 jumlah ayat plus basmalahnya, 19 huruf dalam kalimat bismillahirrahmanirrahim, dan meletakan ayat pertama turun (Al Alaq 1-5) di urutan surat ke 96. Bukan diletakan di urutan yang pertama.

Melalui matematika Islam, K.H Fahmi Basya menunjukan sebuah bukti, bahwa Borobudur adalah sebuah bangunan piramida yang terdiri tiga piramida. Dua hampir sama besar. Yaitu: piramida 23 berjumlah 2300 balok (Kamadhatu), dan piramida 19 berjumlah 70 x 19 balok (Rupadhatu), dan satu piramida kecil bernama piramida 286, berjumlah 286 balok (Arupadhatu). Sebagaimana tiga bangunan piramida di Mesir. Dua piramida, yaitu piramida khufu dan Khafre hampir sama besar dan piramida Menkaure lebih kecil. So, setiap balok pada bangunan Borobudur tersebut mewakili ayat Al Quran.

Selama 33 tahun penelitian, pria kelahiran Padang, 3 Februari 1952 ini, menunjukan bukti, bahwa maksud dari Arsyun ‘Azhim pada QS. An Naml (27): 23, adalah model Borobudur sedangkan Sidrin Qolil pada QS. Saba (34): 16, adalah bangunan-tiga di istana Ratu Boko Yogyakarta. Dari data tersebut, dapat di pahami alasan Allah SWT membedakan dua kata (langit tujuh dan Arsy Azhim) dalam firmanNya pada QS. Al Mu’minuun (23): 86. “Katakanlah: Siapakah pemelihara langit yang tujuh dan pemelihara Asry yang Azhim,”

Borobudur-Pawon-dan Mendut. Membujur dalam satu garis lurus.

Borobudur-Pawon-dan Mendut. Membujur dalam satu garis lurus.

Jika Borobudur mewakili Matahari, maka Pawon mewakili bulan dan Mendut mewakili Bumi. Oleh sebab itu, ke tiga bangunan tersebut jika di lihat dari atas akan membentuk satu garis lurus yang menunjukan satu rangkaian bangunan yang nggak terpisahkan. Para ahli berpendapat, dari segi arsitektur dan ragam hiasnya. Ke tiga bangunan tersebut, berasal dari periode yang sama yang memperkuat dugaan adanya keterkaitan hubungan satu dengan yang lainnya.

Pada zamannya, adakah makhluk yang mampu membuat ke tiga bangunan tersebut, terbujur membentang dalam satu garis lurus? Jika ada, pastilah makhluk tersebut, yang melihat dari atas dan mampu meraba-raba (mencoba mengetahui) rahasia langit.
Dan dia adalah Jin. “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,” [QS. Jin (72): 8]