House of WPAP Jembatani Hobi dan Industri

House of WPAP Jembatani Hobi dan Industri







Ngomongin karya visual popart Indonesia, pastinya nggak lepas dari nama besar Wedha Abdul Rasyid. Soalnya, Ia emang berjasa banget atas terciptanya teknik WPAP alias Wedha’s Pop Art Portrait. Ia pun kerap mendapat julukan Bapak Ilustrator Indonesia. Kamu yang akrab membaca majalah Hai di era 90-an pastinya udah nggak asing lagi dengan karya Wedha.

Wedha yang banyak membuat portrait para pesohor itu pun makin populer dan tekniknya banyak ditiru. Adalah Itock Soekarso, salah satu yang kerap memelajari teknik Wedha dan menggemari karya-karya Wedha sejak remaja hingga akhirnya mneginisiasi lahirnya komunitas WPAP pada September 2010. Setelah resmi terbentuk, Wedha dan kawan-kawan yang kerap belajar online pada Wedha pun serius membuat semacam elektronik tutorial gratis di wpapcommunity.com sehingga memudahkan anggota baru yang ingin belajar.

Lewat wadah online-nya itu pun para anggota yang kini berjumlah 10.000-an bisa sharing karya. Selain itu, grup belajar di laman facebook difungsikan sebagai sarana belajar buat anggota. Tiap karya yang dihasilkan pasti diberikan evaluasi oleh para senior. Uniknya, ada sistem PR bersertifikat juga loh! “Misal kita kasih 5 PR, kalo mereka lulus kita berikan sertifikat,” tutur Itock. Tantangan yang diberikan pun macam-macam, misalnya membuat WPAP dari foto tunggal, grup, foto high/low resolution, dan banyak lainnya. Selain PR, ada juga kompetisi yang diadakan berkala. Hadiahnya, karya mereka bakal dicetak dan mendapatkan hasil penjualan.

Itock Soekarso, founder Komunitas WPAP

Itock Soekarso, founder Komunitas WPAP

“Setelah mereka belajar, kita juga memikirkan industri kreatifnya. kita punya wadah bernama house of WPAP untuk menjual produk-produk kita,” ungkap Itock. Tentu saja yang dijual adalah gambar yang bagus dan telah diseleksi karena nggak semua karya bisa diproduksi loh.. Ada kalanya desainer menggunakan banyak warna, sedangkan industri hanya mengizinkan maksimal 12 warna. So, disinilah tantangannya! Kata Itock, para anggota yang ingin karyanya diproduksi akan makin tertantang bagaimana caranya menggunakan cuma 12 warna tanpa mengurangi kemiripan dengan objek aslinya.

“Selain meningkatkan kemampuan, mereka juga kita triger buat masuk ke industri. Dengan melempar produk mereka ke pasar, mereka juga belajar mengenai selera pasar. Kalau menurut mereka karya mereka sudah bagus tapi ternyata respon publik kurang mereka bisa menilainya sendiri,” jelas Itock. House of WPAP juga menstimulir anggota, terutama yang di daerah buat jadi wirausaha mandiri. Jika mereka sudah berani produksi kaus misalnya, House of WPAP akan membantu mengirimkan karya cetak lain dari Jakarta seperti mug, kalender, atau produk lainnya sehingga toko mereka lebih lengkap. Tentu saja, desainer yang membuat akan mendapatkan persenan Jannaration! Perlahan-lahan, pengiriman barang akan dihentikan kalau anggota sudah bisa memroduksi semua sendiri.

Kalau bisa disimpulkan, House of WPAP memberikan banyak keuntungan bagi komunitas WPAP. Keuntungannya kata Itock, para anggota nggak perlu ngeluarin bikin toko sendiri sekaligus gratis biaya promosi karena sudah ada menejemen yang mengurus semuanya. “Di event pameran pasti kita jual, juga di event pameran membayar pun, Jak Clothing misalnya, kita kan bayar, nah mereka tidak usah dirisaukan oleh bayaran karena itu sudah dikelola oleh manajemen. Tapi mereka tetap dapat potongan dari hasil penjualan.” Wow keren nggak tuh Jannaration!