Frau Bersenang-senang Lewat Musik

Frau Bersenang-senang Lewat Musik
Leilani Hermiasih a.k.a. Frau dalam ilustrasi foto album Happy Coda.







Namanya Leilani Hermiasih. Biasa dipanggil Lani. Lahir di Yogyakarta, kota istimewa yang banyak menghasilkan seniman besar. Perempuan ini katanya sih biasa-biasa saja. Sama seperti kebanyakan perempuan seumurannya yang sedang asyik-asyiknya menggeluti rutinitas sembari, mungkin, menelusuri perjalanan cinta bareng pacar.

Usianya masih muda, 23 tahun. Tapi bakat dalam dirinya itu luar biasa. Ia pandai bernyanyi, memainkan piano, dan cakap menulis syair untuk lagu-lagunya sendiri. Ia sekarang sudah mulai dikenal sebagai seorang penyanyi, musikus, komponis, yang diperhitungkan di belantika musik tanah air.

Pada 2009, Lani sempat diundang dalam sebuah episode program acara Kick Andy Metro TV. Bersama band-band indie papan atas Indonesia seperti White Shoes & The Couples Company dan SORE, Lani tampil memperkenalkan diri sebagai penyanyi perempuan yang berbeda dari kebanyakan penyanyi perempuan lainnya yang suka wira-wiri di layar kaca.

Ia sukses membius seisi studio lewat penampilan perdananya di stasiun TV nasional itu. Suaranya teduh, menenangkan hati. Jejarinya lincah memijit lembut tuts piano elektrik di depannya yang diberinya nama Oskar. Ia melantunkan lagu dengan syair yang indah dalam “Mesin Penenun Hujan”, sebuah nomor cantik yang mengorbitkan namanya.

Pada kesempatan itu, Lani menggunakan nama Frau, nama panggung yang biasa dipakainya jika sedang tampil. “Frau itu dari bahasa Jerman. Artinya Nyonya,” jelas Lani. “Karena musik yang aku bawakan bernuansa Eropa. Dan aku suka nama itu.”

Sejak saat itu, gadis berdarah campuran Indo-Jepang ini langsung mencuri hati banyak penyuka musik. Lewat sejumlah lagu ciptaannya sendiri yang cuma menggabungkan vokal dan piano, Frau dihujani pujian banyak media dan kritikus musik dan disebut sebagai ‘permata’ musik Indonesia dari ranah indie yang punya masa depan cerah dengan bakat luar biasanya.

Meski dipuji begitu, Frau nggak mau ambil pusing. Ia mengungkapkan bahwa apa yang sudah diciptakannya sejauh ini hanyalah buah dari kecintaannya terhadap musik, kesenangannya membuat lagu, dan keinginannya berbagi kepada para penyuka musik. Ia nggak punya impian muluk-muluk buat jadi penyanyi besar. “Musik itu cuma kesenangan dan hobi saja kok,” tegasnya.

Belum lama ini, Frau melahirkan album baru berjudul Happy Coda, setelah sebelumnya sempat absen 3 tahun karena fokus menuntaskan studinya di Jurusan Antropologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Album ini adalah karya keduanya yang menjawab kerinduan para penggemarnya setelah debut memikat Starlit Carousel yang dirilisnya pada 2010.

FYI! Album bagus ini dirilis perdana secara digital pada bulan Agustus dan dapat diunduh secara gratis dari situs yesnowave.com. Ada juga edisi eksklusifnya berbentuk buku partitur yang dikeluarkan sebanyak 300 buah. Tapi, kabar terakhir yang Janna pantau dari jejaring media sosial Frau baru-baru ini, edisi terbatas ini cuma tinggal beberapa saja. Buat kamu yang belum punya, buruan deh pesan sebelum kehabisan. Apalagi kalau kamu ngaku sebagai fans kelas beratnya. Wajib! ;)