Batik+Matematika=Fractal

Batik+Matematika=Fractal







Usaha kecil menengah, sering diidentikan dengan usaha yang nggak pernah besar. Kalau nggak gitu-gitu saja, ya, paling mentok posisinya ditengah-tengah. So, kapan bisa besarnya? Hemm. Mind set itu, diterobos oleh Nancy Margried. Sarjana ilmu sosial dari Universitas Padjajaran ini, mengkreasikan usaha batik, menjadi lebih besar dan mandiri.

Bersama Muhamad Lukman dan Yun Hariadi, melakukan riset tahun 2007. Tanpa dukungan modal dari pihak lain, Nancy dan temannya mampu menghasilkan motif batik baru dengan rumus matematika. Batik dan matematika? Nyambung nggak sih? Kalau ditanya ke Nancy, pasti nyambung. Batik ditambah rumus matematika sama dengan fractal.

Yups, batik fractal hasilnya. Baru dengar? Batik fractal nggak lain motif batik yang dibuat dengan rumus matematika tadi. Nah, kalau dibikin secara manual, pasti repot kaan. Maka, Nanci dan rekannya melahirkan jBatik, software khusus buat batik fractal. Total modal awal kelahiran batik fractal dan jBatik cuma satu juta perak!

Secara teknisi, proses pembatikan tetap menggunakan canting atau cap. Bedanya, dalam pembuatan motif fractal, menggunakan perangkat lunak jBatik. Hasilnya, batik lebih modern dan kontemporer. So, kalau dipakai buat nongkrong, nggak terkesan formal-formal banget, pastinya tambah cool.

Batik_Fractal_Sisik_Brown_Green_1

Dalam perjalanannya, Nancy dan temannya mendapat kesempatan mempresentasikan konsep Batik Fractal secara keilmuan di sebuah konferensi international, tentang science and art di Milan Italy. Maka, nama Batik Fractal mulai dikenal dirancah international.

“Saat itu, belum ada program pendukung entrepreneurship pemuda dan skema pendanaan untuk industri kreatif seperti sekarang. Jadi, yang kami lakukan membuat bisnis maju pelan-pelan, dan tetap menciptakan produk yang bisa langsung dipasarkan. Hasilnya, diinvestasikan kembali membangun perusahaan,” kenang peraih nominasi Kartini award di Indonesia Inspirational Women 2012.

Kehadiran Batik Fractal dengan software jBatiknya, dinilai jadi pioneer perusahaan teknologi kreatif Indonesia yang memfokuskan diri menggarap pasar usaha kerajinan di Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi dalam pekerjaan dan produk setiap pelaku usaha, maka, usaha kecil menengah bisa lebih kreatif dan mandiri. Dan Nancy sudah membuktikannya, terhitung omzet yang diraih sekarang sudah mampu menempus satu milyar rupiah!

Bagi wanita kelahiran Medan, 3 Maret silam itu, hal yang paling berharga selama menjalani usaha, berhasil menciptakan inovasi kelas dunia, serta bermanfaat bagi masyarakat secara luas.

Saat ini, Nancy dan teman-temannya sedang mengarahkan penggunaan software jBatik pada industri tekstil skala pabrik dalam negeri. Berharap semua pelaku usaha kerajinan di Indonesia bisa melek teknologi. Guna mengatasi ketergantungan Indonesia pada tekstil batik printing dari Cina. Wah, keren.