‘Basicly Gua Kurang Setuju’

‘Basicly Gua Kurang Setuju’
Sejumlah aktivis mahasiswa melakukan aksi damai menolak sosialisasi kondom di depan Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (4/12). Foto : Republika/Adhi Wicaksono

Sejak muncul berita pekan kondom nasional (PKN) kerjasama antara distributor kondom di Indonesia, DKT Indonesia dengan Kementrian Kesehatan (Kemenkes RI) banyak kecaman dari berbagai pihak. Acara yang berlangsung satu pekan (1-7 Desember) kabarnya telah dihentikan (ROL,4/12). Nah, kiri-kira apa saja ya tanggapan teman-teman kita tentang Pekan Kondom Nasional, yang kabarnya membagi-bagikan kondom gratis itu? Yuk Jannaration, kita simak…

Promosi gaya hidup tanpa free sex lebih baik

Edwinnata Bustami. Freelancer di Jakarta

Edwinnata Bustami. Freelancer di Jakarta

Apa iya, kondom ada hubungan erat dengan isu HIV/AIDS? Kondom cuma bagian dari gaya hidup kok. Hidup ini memang singkat, bahkan bisa lebih dipersingkat kalau pakai kondom. Basicly gua kurang setuju ada Pekan Kondom Nasional. Bisa-bisa dimasa akan datang, generasi muda kita bisa jadi apa yang ada di Film American Pie.

Waktu gue ke Jepang, sebagian masyarakat di sana nggak terlalu common sama tindakan promosi kondom di tempat umum apalagi institusi pendidikan. Dan condom sendiri bukan bagian yang kuat dari preventing HIV/AIDS, kondom di sebagian masyarakat itu adalah gaya hidup dan gaya hidup itu bisa dihubungkan pula sama preventing HIV/AIDS-nya.

Bagi gue, promosi gaya hidup tanpa free sex lebih baik dari promosi kondom itu sendiri.”

Bukan untuk cegah seks bebas

Yusron Asropi. Mahasiswa UGM

Yusron Asropi. Mahasiswa UGM

Mengenai sosialisasi kondom, menurutku itu suatu kewajaran. Bahkan mungkin suatu proses masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang lebih kritis. Saya yakin bahwa setiap kebijakan yang diambil pemerintah, pasti melalui proses dan tahapan -tahapan sebelumnya. Nggak asal asalan.

Dilihat dari konsep sosiologis, Indonesia adalah negara plural. Jadi, kalau sosialisasi kondom dengan membagi-bagikan kondom itu dapat di terima oleh kebanyakan masyarakat, artinya sosialisasi dengan cara seperti itu, nggak ada masalah,walaupun mungkin ada sebagian dari golongan tertentu yang menolaknya.

Kalo secara hukum, yuridis melanggar hukum,  perlu dicermati kembali. Terus, karena seks bebas sudah menjadi salah satu budaya menyimpang di indonesia, dan tujuan utama dari pemerintah adalah mencegah dan menurunkan HIV/AIDS, maka salah satu cara yang paling cepat untuk itu adalah dengan pemberian alat pencegahnya secara langsung.

Jadi,  yang perlu digaris bawahi adalah, tujuan utama kenapa dilakukan sosialisasi kondom itu, sebagai upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS, bukan untuk mencegah seks bebas. Artinya jika tujuannya mencegah seks bebas, pemerintah perlu menggandeng pihak-pihak yang komptenen.